Jeddah, 23 September 2026 – Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz Al Saud mengecam keras dugaan upaya kelompok Houthi dari Yaman menargetkan Kota Suci Makkah. Dalam pernyataannya, Raja Salman menyebut Houthi sebagai “milisi teroris” dan menilai dugaan serangan tersebut sebagai tindakan yang melanggar kesucian tempat suci umat Islam. Pernyataan itu disampaikan ketika Raja Salman memimpin sidang mingguan Dewan Menteri Arab Saudi di Jeddah pada Selasa, 22 September 2026. Ia mengatakan tindakan yang dituduhkan kepada Houthi telah memicu kecaman internasional. Raja Salman juga menyebut dugaan penargetan Makkah sebagai provokasi terhadap perasaan umat Islam di seluruh dunia.
Sikap Raja Salman muncul sekitar satu pekan setelah pemerintah Arab Saudi melaporkan adanya sebuah pesawat nirawak atau drone yang mengarah ke Makkah. Pemerintah Saudi menyatakan sistem pertahanan udaranya berhasil mencegat dan menghancurkan drone tersebut sebelum memasuki wilayah udara terlarang di sekitar kota suci. Insiden itu terjadi pada 15 September 2026 dan sempat meningkatkan kesiagaan keamanan di kawasan tersebut. Riyadh menuding drone tersebut diluncurkan oleh kelompok Houthi. Namun, tuduhan mengenai pihak yang bertanggung jawab dibantah oleh Houthi.
Raja Salman memberikan apresiasi kepada angkatan bersenjata dan aparat keamanan Arab Saudi atas respons mereka menghadapi ancaman tersebut. Ia memuji personel keamanan yang bertugas mempertahankan wilayah Kerajaan dan melindungi tempat-tempat suci. Menurut Raja Salman, perlindungan tidak hanya ditujukan kepada Masjidil Haram dan kawasan suci lainnya, tetapi juga kepada jemaah, warga negara, serta seluruh penduduk Arab Saudi. Pemerintah Saudi menempatkan keamanan Makkah dan Madinah sebagai salah satu prioritas utamanya. Pernyataan Raja Salman sekaligus menegaskan sikap Kerajaan terhadap ancaman yang dinilai menyasar wilayah suci.
Pemerintah Arab Saudi sebelumnya menyebut insiden tersebut sebagai upaya kedua Houthi menargetkan Makkah. Riyadh mengaitkannya dengan insiden pada 27 Juli 2017 yang juga disebut sebagai upaya serangan terhadap kota tersebut. Kementerian Luar Negeri Saudi menyatakan serangan terhadap Makkah bukan hanya persoalan keamanan nasional, tetapi juga menyangkut kesucian salah satu tempat terpenting bagi umat Islam. Kerajaan kemudian meminta masyarakat internasional mengambil sikap tegas terhadap serangan yang dituduhkan kepada Houthi. Arab Saudi juga menegaskan haknya mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan Dua Masjid Suci dan seluruh wilayah Kerajaan.
Meski demikian, Houthi secara tegas membantah tuduhan bahwa kelompoknya berusaha menyerang Makkah. Pemimpin Houthi Abdel-Malik al-Houthi menyebut klaim Arab Saudi tersebut tidak benar dan menyangkal kelompoknya menjadikan kota suci sebagai sasaran. Sumber militer yang dikutip media yang dikelola Houthi juga menyatakan tidak terdapat ancaman dari Yaman terhadap Makkah maupun situs-situs suci Islam lainnya. Perbedaan klaim tersebut membuat tuduhan mengenai sasaran drone tetap diperdebatkan oleh kedua pihak. Karena itu, klaim bahwa Makkah secara khusus menjadi target berasal dari pemerintah Arab Saudi dan dibantah oleh Houthi.
Insiden pada pertengahan September turut memicu reaksi sejumlah negara Muslim. Qatar mengecam dugaan serangan tersebut dan menegaskan pentingnya menjaga kesucian Makkah dan Masjidil Haram. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengecam insiden itu sekaligus menyatakan dukungan terhadap kedaulatan dan integritas wilayah Arab Saudi. Yordania menyampaikan sikap serupa dengan menyebut tindakan tersebut sebagai pelanggaran terhadap kedaulatan Kerajaan apabila terbukti. Respons tersebut menunjukkan tingginya sensitivitas keamanan Makkah bagi negara-negara Muslim.
Pernyataan langsung Raja Salman mengenai perkembangan keamanan tersebut menjadi perhatian karena urusan pemerintahan sehari-hari Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir lebih banyak dijalankan di bawah kepemimpinan Putra Mahkota Mohammed bin Salman. Raja Salman yang kini berusia 90 tahun tetap menjadi kepala negara sekaligus Penjaga Dua Masjid Suci. Pernyataan kerasnya menunjukkan pentingnya persoalan keamanan Makkah bagi Kerajaan. Ia menyebut dugaan upaya penargetan kota suci tersebut sebagai kejahatan serius yang tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab Saudi menjaga situs-situs suci Islam.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi kembali meningkat setelah serangkaian perkembangan keamanan di kawasan. Houthi merupakan gerakan bersenjata Yaman yang menguasai ibu kota Sanaa dan sejumlah wilayah lainnya serta memiliki hubungan dekat dengan Iran. Dalam beberapa tahun terakhir, konflik Yaman telah berulang kali berdampak terhadap keamanan Arab Saudi, termasuk melalui serangan rudal dan drone yang diklaim atau dikaitkan dengan Houthi. Perkembangan terbaru kembali menempatkan kemampuan drone dan rudal sebagai perhatian utama bagi pertahanan Kerajaan. Saudi juga menyoroti ancaman Houthi terhadap pelayaran komersial dan kebebasan navigasi maritim.
Bagi Arab Saudi, dugaan ancaman terhadap Makkah memiliki dimensi yang berbeda dibandingkan serangan terhadap fasilitas ekonomi atau militer. Kota tersebut menjadi lokasi Masjidil Haram dan Ka’bah serta menerima jutaan jemaah dari berbagai negara setiap tahun. Pemerintah Saudi karena itu menegaskan akan mempertahankan keamanan jemaah dan kawasan suci dari setiap ancaman. Kesiagaan keamanan yang diberlakukan setelah insiden drone menunjukkan tingkat perhatian pemerintah terhadap potensi risiko tersebut. Langkah pertahanan juga diarahkan untuk memastikan aktivitas keagamaan di Makkah tetap berlangsung dengan aman.
Pernyataan Raja Salman kini menambah tekanan politik terhadap Houthi di tengah meningkatnya ketegangan regional. Namun, perbedaan versi antara pemerintah Saudi dan Houthi mengenai drone yang dicegat tetap perlu dicatat dalam melihat insiden tersebut. Riyadh menyatakan Makkah menjadi sasaran dan menyebut keberhasilan pertahanan udara mencegah drone memasuki wilayah terlarang, sementara Houthi menyangkal melakukan serangan terhadap kota suci. Arab Saudi menegaskan akan terus mengambil langkah yang dianggap diperlukan untuk menjaga keamanan wilayah, warga, penduduk, serta para jemaah. Perkembangan selanjutnya akan sangat bergantung pada dinamika keamanan antara Saudi dan kelompok Houthi serta situasi konflik yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.