Mumbai, 19 September 2026 – Mumbai tidak hanya dikenal sebagai salah satu pusat ekonomi dan industri hiburan terbesar di India, tetapi juga menyimpan lapisan sejarah dari berbagai zaman. Jejak tersebut dapat ditemukan mulai dari kompleks gua dengan pahatan batu berusia lebih dari seribu tahun hingga bangunan monumental peninggalan masa kolonial Inggris. Salah satu situs paling terkenal adalah Elephanta Caves yang berada di sebuah pulau tidak jauh dari pesisir Mumbai. Kompleks ini menyimpan sejumlah karya seni pahat yang berkaitan erat dengan pemujaan terhadap Dewa Shiva. Di pusat kota, jejak periode kolonial terlihat melalui Gateway of India dan berbagai bangunan berarsitektur Eropa. Perpaduan tersebut membuat perjalanan menyusuri Mumbai seperti melihat rangkaian sejarah India dari masa kuno hingga era modern.
Elephanta Caves berada di Elephanta Island yang juga dikenal dengan nama Gharapuri. Situs ini dapat dijangkau melalui perjalanan laut dari kawasan Gateway of India di Mumbai. UNESCO mencatat kompleks gua batu tersebut dibangun sekitar pertengahan abad ke-5 hingga abad ke-6 Masehi, meskipun kawasan pulaunya menunjukkan bukti aktivitas manusia dari periode yang jauh lebih tua. Kompleks tersebut terutama dikenal karena karya seni batu yang berkaitan dengan tradisi pemujaan Shiva. Gua-gua dibuat dengan memahat langsung formasi batu sehingga ruang, tiang dan relief menjadi satu kesatuan dengan material alaminya. Nilai arsitektur dan seni yang dimiliki Elephanta kemudian membuat situs tersebut ditetapkan sebagai Warisan Dunia UNESCO pada 1987.
Salah satu bagian paling mengesankan berada di Cave 1 yang menjadi gua utama dalam kompleks Elephanta. UNESCO mencatat gua tersebut memiliki panjang sekitar 39 meter dari pintu masuk hingga bagian belakang. Di dalamnya terdapat sejumlah relief besar yang menggambarkan berbagai bentuk dan kisah Shiva. Karya paling terkenal adalah Sadashiva setinggi sekitar tujuh meter yang menampilkan tiga aspek Shiva dalam satu komposisi monumental. Relief lain menggambarkan Nataraja, Yogishvara, Ardhanarishvara hingga sejumlah adegan penting dalam tradisi Hindu. Ukuran, detail dan penempatan pahatan memperlihatkan kemampuan tinggi para pembuatnya dalam mengolah batu menjadi karya arsitektur sekaligus seni religius. UNESCO bahkan menempatkan relief-relief besar di gua utama sebagai salah satu pencapaian penting seni India.
Dari peninggalan peradaban kuno tersebut, perjalanan sejarah Mumbai dapat dilanjutkan menuju Gateway of India di kawasan Apollo Bunder. Monumen berbentuk gerbang besar itu menghadap langsung ke Laut Arab dan kini menjadi salah satu landmark paling dikenal di Mumbai. Gateway of India didirikan untuk memperingati kedatangan Raja George V dan Ratu Mary ketika berkunjung ke India pada 1911. Batu fondasinya diletakkan pada 31 Maret 1911, sedangkan rancangan final karya arsitek George Wittet disetujui pada 1914. Pembangunan kemudian selesai pada 1924 sehingga bangunan permanennya baru berdiri bertahun-tahun setelah kunjungan kerajaan tersebut. Monumen setinggi sekitar 26 meter itu dibangun menggunakan batu basal dengan gaya arsitektur Indo-Saracenic.
Gateway of India kemudian mempunyai fungsi simbolis yang jauh melampaui tujuan awal pembangunannya. Pada masa pemerintahan Inggris, gerbang tersebut digunakan sebagai pintu masuk seremonial bagi pejabat tinggi yang datang melalui jalur laut. Arsitekturnya memadukan sejumlah unsur India dan Islam dengan pengaruh Barat yang berkembang pada masa tersebut. Setelah India merdeka, makna monumen itu mengalami perubahan dan kini menjadi bagian dari identitas sejarah Mumbai. Kawasan di sekitarnya ramai dikunjungi wisatawan sekaligus menjadi salah satu titik untuk menikmati pemandangan Laut Arab. Dari kawasan ini pula pengunjung dapat menggunakan kapal menuju Elephanta Island. Kedekatan kedua lokasi tersebut memungkinkan wisatawan melihat peninggalan India kuno dan warisan kolonial dalam satu rangkaian perjalanan.
Tidak jauh dari Gateway of India berdiri Taj Mahal Palace yang menjadi salah satu bangunan ikonik di kawasan tersebut. Hotel bersejarah itu telah berdiri sejak 1903 dan menjadi bagian dari panorama arsitektur di tepi laut Mumbai. Sementara jika perjalanan diteruskan menuju kawasan budaya kota, berbagai bangunan peninggalan periode kolonial masih dapat ditemukan berdiri di antara perkembangan kota modern. Salah satunya adalah Chhatrapati Shivaji Maharaj Vastu Sangrahalaya atau CSMVS yang berfungsi sebagai museum. Bangunan tersebut pada awalnya didirikan untuk memperingati kunjungan Pangeran Wales yang kemudian menjadi Raja George V. Kehadiran berbagai bangunan itu memperlihatkan kuatnya jejak sejarah kolonial dalam perkembangan wajah Mumbai.
Warisan arsitektur Mumbai juga tidak berhenti pada kawasan Gateway of India. Rajabai Clock Tower di kompleks University of Mumbai menjadi contoh lain bangunan bersejarah dengan pengaruh arsitektur Eropa. Menara yang dirancang arsitek Inggris Sir George Gilbert Scott tersebut selesai pada 1878 dan memadukan gaya Venetian serta Gothic. Kawasan Kala Ghoda juga dikenal memiliki sejumlah landmark budaya, galeri dan bangunan bersejarah. Jejak kolonial tersebut kini berdampingan dengan pusat bisnis, kawasan komersial dan kehidupan perkotaan Mumbai yang sangat padat. Sebagian bangunan tidak lagi memiliki fungsi yang sama seperti pada masa pembangunannya, tetapi tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas kota. Lanskap tersebut menunjukkan bagaimana sejarah Mumbai terbentuk melalui pertemuan berbagai budaya dan periode kekuasaan.
Selain peninggalan kolonial dan Elephanta Caves, Mumbai memiliki situs bersejarah lain yang memperlihatkan panjangnya perjalanan kota tersebut. Banganga Tank di kompleks Walkeshwar Temple, Malabar Hill, misalnya, mempunyai sejarah yang ditelusuri hingga masa Dinasti Silhara. Pemerintah Kota Mumbai mencatat tempat penampungan air kuno tersebut awalnya dibangun pada 1127 dan kemudian dibangun kembali pada 1715. Situs seperti Banganga menunjukkan bahwa sejarah Mumbai tidak hanya berkaitan dengan perkembangan kota pada masa kolonial Inggris. Tradisi Hindu, perdagangan maritim, perkembangan kerajaan lokal dan pertemuan masyarakat dari berbagai latar belakang telah membentuk kota ini selama berabad-abad. Jejak tersebut masih dapat ditemukan di tengah gedung modern yang kini mendominasi cakrawala Mumbai.
Perjalanan dari Elephanta Caves menuju Gateway of India akhirnya memperlihatkan dua periode sejarah yang sangat berbeda dalam jarak yang relatif dekat. Elephanta menghadirkan pahatan batu monumental yang menjadi bukti perkembangan seni dan tradisi spiritual India sejak berabad-abad silam. Gateway of India, sebaliknya, menjadi pengingat terhadap periode kolonial Inggris dan kunjungan Raja George V bersama Ratu Mary pada awal abad ke-20. Bangunan museum, menara, hotel bersejarah dan berbagai situs lain kemudian melengkapi perjalanan panjang tersebut. Mumbai pun menawarkan lebih dari sekadar kehidupan metropolitan karena sejarahnya masih dapat dibaca melalui gua, pahatan, monumen dan arsitektur yang bertahan hingga sekarang. Perpaduan berbagai peninggalan itulah yang menjadikan Mumbai salah satu kota dengan lanskap sejarah dan budaya yang berlapis di India.