Jakarta, 7 September 2026 – Iran memperingatkan Amerika Serikat bahwa setiap serangan baru terhadap kepentingan maupun keamanan negaranya akan mendapatkan respons yang lebih cepat, lebih berat, dan lebih menyakitkan. Peringatan tersebut disampaikan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf setelah ketegangan militer antara kedua negara kembali meningkat di kawasan Teluk dan sekitar Selat Hormuz. Ghalibaf menegaskan Tehran tidak lagi menggunakan pendekatan balasan yang hanya sebanding dengan serangan yang diterimanya. Menurutnya, pola konfrontasi telah berubah setelah rangkaian serangan terbaru terhadap kepentingan Iran. Pernyataan tersebut muncul ketika pasukan Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan setelah aktivitas militer sempat mereda selama sebagian besar Agustus. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi konfrontasi yang semakin luas. Iran pada saat yang sama menghadapi tekanan ekonomi besar akibat sanksi dan blokade terhadap ekspor minyaknya.
Ghalibaf menyampaikan peringatan tersebut dalam pidatonya di parlemen pada Minggu, 6 September 2026. Ia mengatakan Amerika Serikat seharusnya memahami bahwa era respons proporsional dari Iran telah berakhir. Serangan terbaru Iran terhadap kepentingan militer Amerika Serikat disebutnya hanya menjadi awal dari kemampuan yang dapat digunakan Tehran apabila tekanan terus berlanjut. Ia juga meminta Washington memahami perubahan tersebut sebelum situasi berkembang lebih jauh. Pernyataan Ghalibaf menunjukkan posisi keras kelompok kepemimpinan Iran di tengah belum tercapainya terobosan diplomatik untuk mengakhiri konflik. Meski demikian, pernyataan tersebut merupakan sikap politik Iran dan klaim mengenai kemampuan maupun hasil operasi militernya tetap harus dibedakan dari fakta yang telah diverifikasi secara independen. Kedua pihak selama konflik berlangsung berulang kali mengeluarkan klaim berbeda mengenai keberhasilan operasi masing-masing.
Ketegangan terbaru meningkat setelah Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM menyatakan pasukannya menyerang tiga kapal tanker Iran pada Sabtu, 5 September. Washington mengatakan operasi tersebut dilakukan setelah Korps Garda Revolusi Islam Iran meluncurkan rudal balistik ke arah dua kapal perang Amerika Serikat. Kapal-kapal perang AS disebut berhasil menghindari serangan dan tidak ada laporan korban dari pihak Amerika dalam insiden tersebut. CENTCOM kemudian menyatakan dua tanker Iran dibuat tidak dapat beroperasi secara permanen, sementara satu kapal tanker kosong dihancurkan di Laut Oman. Amerika Serikat menyebut kapal-kapal tersebut mempunyai keterkaitan dengan jaringan yang membantu pendanaan Garda Revolusi Iran. Tehran mengecam tindakan Washington dan memandang serangan terhadap kapal tanker sebagai bagian dari tekanan militer serta ekonomi terhadap negaranya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu eskalasi paling serius setelah periode relatif tenang pada bulan sebelumnya.
Garda Revolusi Iran kemudian mengklaim telah melancarkan serangan terhadap sejumlah kapal yang mempunyai hubungan dengan Amerika Serikat. Tehran juga menyatakan telah menargetkan kapal perang AS dalam operasi balasannya. Namun, CENTCOM membantah sejumlah klaim Iran dan menyatakan kapal-kapal perangnya tetap beroperasi. Perbedaan informasi dari kedua pihak membuat gambaran mengenai dampak penuh pertempuran masih terus berkembang. Iran menggunakan kemampuan rudal, drone, dan kekuatan maritim sebagai bagian dari strateginya menghadapi tekanan Amerika Serikat. Sementara Washington mengandalkan armada laut dan udara untuk mempertahankan jalur pelayaran serta menjalankan blokade terhadap ekspor minyak Iran. Konfrontasi tersebut membuat kawasan Teluk kembali menjadi pusat perhatian karena setiap salah perhitungan dapat memperluas konflik. Negara-negara di kawasan juga menghadapi risiko keamanan apabila serangan meluas ke pangkalan atau fasilitas yang mempunyai hubungan dengan Amerika Serikat.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perseteruan kedua negara. Jalur laut tersebut merupakan salah satu koridor paling strategis bagi perdagangan minyak dan gas dunia. Sebelum konflik meningkat, sekitar seperlima pasokan minyak global melewati kawasan tersebut. Iran berusaha mempertahankan kemampuan untuk membatasi lalu lintas sebagai salah satu instrumen tekanannya terhadap Washington. Amerika Serikat sebaliknya mengerahkan kekuatan militernya untuk mempertahankan pergerakan kapal dan menekan ekspor minyak Iran. CENTCOM menyatakan hingga 6 September telah mengalihkan rute 92 kapal komersial, menghentikan tiga kapal, serta menaiki dua kapal untuk memastikan kepatuhan terhadap blokade yang diberlakukan. Situasi tersebut membuat keamanan Selat Hormuz mempunyai dampak langsung terhadap perdagangan energi internasional.
Ketegangan saat ini merupakan kelanjutan konflik yang meningkat sejak serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Pertempuran kemudian berlangsung selama beberapa bulan dengan serangan terhadap berbagai sasaran militer dan strategis. Kesepakatan awal penghentian operasi militer dicapai pada Juni dan membuka peluang bagi proses diplomasi. Namun, perundingan berikutnya tidak menghasilkan penyelesaian menyeluruh terhadap berbagai persoalan antara Washington dan Tehran. Aktivitas militer sempat berkurang sepanjang sebagian besar Agustus sebelum serangan balasan kembali meningkat. Perselisihan mengenai program nuklir Iran, keamanan regional, jalur perdagangan energi, dan keberadaan militer Amerika Serikat masih menjadi sumber ketegangan. Kegagalan diplomasi menghasilkan kesepakatan permanen membuat risiko konfrontasi baru tetap tinggi.
Di luar medan militer, Amerika Serikat terus meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran. Washington menjalankan blokade terhadap ekspor minyak Iran sejak pertengahan April dengan tujuan membatasi salah satu sumber utama pendapatan Tehran. Pemerintah AS juga memperketat pengawasan terhadap jaringan perdagangan dan lembaga keuangan yang dituding membantu Iran menghindari sanksi. Tekanan tersebut mulai memberikan dampak semakin besar terhadap perekonomian Iran. Ekspor minyak menghadapi hambatan, biaya perdagangan meningkat, sementara akses terhadap mata uang asing semakin terbatas. Nilai tukar rial juga mengalami tekanan berat dan inflasi membuat daya beli masyarakat semakin melemah. Kondisi ekonomi tersebut menambah tantangan bagi pemerintah Iran yang pada saat bersamaan harus membiayai kebutuhan domestik serta menghadapi konflik berkepanjangan.
Menteri Ekonomi Iran Ali Madanizadeh mengatakan pemerintah akan memperkuat reformasi untuk mengatasi persoalan yang muncul akibat tekanan ekonomi Amerika Serikat. Tehran menolak pandangan bahwa sanksi dapat memaksa Iran mengubah keputusan strategisnya. Pemerintah Iran mengakui sebagian persoalan ekonomi juga harus diselesaikan melalui pembenahan kebijakan di dalam negeri. Kementerian Ekonomi bahkan memperkuat kerja sebuah tim khusus yang menangani berbagai persoalan akibat perang dan tekanan eksternal. Produksi, lapangan kerja, serta kebutuhan hidup masyarakat menjadi perhatian utama karena dampak konflik semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari. Ghalibaf juga menekankan bahwa pertempuran Iran saat ini tidak hanya berlangsung secara militer, tetapi juga dalam mempertahankan produksi dan kehidupan ekonomi masyarakat. Pemerintah berusaha menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tidak akan mengubah posisi politik Tehran terhadap Washington.
Ancaman balasan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasar energi global. Gangguan terhadap pelayaran di Selat Hormuz telah membuat arus minyak lebih rendah dibandingkan kondisi sebelum konflik. Pemerintah Amerika Serikat menyatakan kapal masih dapat melewati kawasan tersebut dengan dukungan pengamanan militernya. Menteri Energi AS Chris Wright menyebut arus melalui Selat Hormuz berada di atas sembilan juta barel per hari, sementara jalur pipa alternatif membantu mempertahankan sebagian pasokan. Meski demikian, jumlah tersebut masih berada di bawah tingkat perdagangan sebelum konflik. Risiko serangan terhadap kapal tanker membuat perusahaan pelayaran harus memperhitungkan keamanan, asuransi, dan biaya operasional yang lebih tinggi. Setiap peningkatan pertempuran berpotensi kembali memberikan tekanan terhadap harga minyak dan bahan bakar internasional.
Peringatan terbaru dari Ghalibaf menunjukkan Iran belum berniat mengurangi respons militernya apabila Amerika Serikat kembali menyerang. Washington pada sisi lain juga memperingatkan akan mengambil tindakan terhadap aset Iran apabila kapal maupun personel Amerika terus menjadi sasaran. Sikap keras kedua pihak membuat peluang terjadinya rangkaian serangan balasan masih terbuka selama tidak terdapat kesepakatan diplomatik baru. Konflik yang telah berlangsung sekitar enam bulan kini memasuki fase ketika tekanan militer berjalan bersamaan dengan perang ekonomi dan perebutan kendali jalur energi. Iran berusaha menunjukkan bahwa kemampuan membalas serangan masih tetap dimiliki meskipun ekonominya menghadapi tekanan berat. Amerika Serikat terus menggunakan kekuatan militer dan pembatasan ekonomi untuk menekan Tehran. Perkembangan di Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan apakah ketegangan kembali mereda atau justru berkembang menjadi konfrontasi yang lebih luas.