Bogor, 26 Agustus 2026 – Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun ke-187 GPIB Immanuel Bogor yang menjadi momentum refleksi perjalanan panjang gereja dalam kehidupan masyarakat. Dalam kesempatan tersebut, Bima Arya mendorong jemaat untuk terus mewariskan nilai iman, pelayanan, serta semangat kebersamaan kepada generasi berikutnya. Ia menilai perjalanan panjang GPIB Immanuel tidak hanya mencerminkan keberlangsungan sebuah institusi keagamaan, tetapi juga menunjukkan kontribusi gereja dalam kehidupan sosial masyarakat. Perayaan hari ulang tahun tersebut sekaligus menjadi kesempatan untuk memperkuat hubungan antara kehidupan beragama dengan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Pesan mengenai pentingnya meneruskan nilai-nilai tersebut disampaikan agar generasi muda tidak hanya mengenal sejarah gereja, tetapi juga mampu menghidupkan semangat pelayanan dalam konteks zaman yang terus berubah.
Bima Arya menyampaikan bahwa usia 187 tahun merupakan perjalanan yang sangat panjang dan memiliki nilai sejarah tersendiri. Menurutnya, keberadaan GPIB Immanuel Bogor selama hampir dua abad menunjukkan adanya proses pewarisan nilai yang dilakukan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Nilai tersebut tidak terbatas pada kegiatan ibadah, tetapi juga mencakup semangat melayani masyarakat serta menjaga hubungan yang harmonis dengan lingkungan sekitar. Karena itu, momentum peringatan ulang tahun gereja dinilai tepat untuk melihat kembali berbagai kontribusi yang telah diberikan sekaligus merumuskan peran yang dapat dilakukan pada masa mendatang. Generasi muda diharapkan menjadi bagian penting dalam menjaga kesinambungan perjalanan tersebut melalui keterlibatan aktif dalam kehidupan gereja maupun masyarakat.
Dalam konteks kehidupan sosial, Bima Arya juga menekankan pentingnya peran lembaga keagamaan dalam menjaga kerukunan. Indonesia memiliki masyarakat dengan latar belakang agama, budaya, dan tradisi yang beragam sehingga kehidupan bersama membutuhkan sikap saling menghormati. Gereja dapat mengambil peran dalam membangun ruang perjumpaan yang memperkuat persaudaraan di tengah perbedaan. Nilai pelayanan yang diwariskan dari generasi sebelumnya juga dapat diterapkan melalui kegiatan sosial, pendidikan, kemanusiaan, serta kepedulian terhadap masyarakat yang membutuhkan. Dengan demikian, keberadaan rumah ibadah tidak hanya memiliki fungsi spiritual, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kekuatan sosial yang membantu menjaga ketahanan masyarakat.
GPIB Immanuel Bogor sendiri memiliki posisi penting dalam sejarah kehidupan keagamaan di Kota Bogor. Gereja tersebut telah melewati berbagai perubahan sosial dan perkembangan kota sejak berdiri pada abad ke-19. Perjalanan panjang itu membuat keberadaannya tidak dapat dilepaskan dari perkembangan masyarakat di sekitarnya. Berbagai generasi jemaat telah menjadi bagian dari perjalanan gereja dan meneruskan pelayanan dalam kondisi zaman yang berbeda-beda. Dalam situasi masyarakat modern yang semakin dinamis, warisan sejarah tersebut perlu dijaga dengan tetap membuka ruang bagi pembaruan agar gereja dapat terus menjalankan perannya secara relevan.
Bima Arya menilai generasi muda memiliki posisi strategis dalam memastikan nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai catatan sejarah. Anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk terlibat dalam berbagai kegiatan gereja, termasuk pelayanan sosial dan aktivitas kemasyarakatan. Keterlibatan tersebut dapat menjadi sarana untuk membangun kepemimpinan sekaligus memperkuat rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola interaksi masyarakat, nilai iman dan pelayanan juga dapat disampaikan melalui pendekatan yang sesuai dengan karakter generasi baru. Dengan cara tersebut, tradisi yang telah diwariskan selama puluhan bahkan ratusan tahun dapat tetap hidup tanpa kehilangan makna dasarnya.
Peringatan HUT ke-187 juga menjadi momentum untuk memperkuat semangat pelayanan yang tidak terbatas pada lingkungan internal jemaat. Pelayanan dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap persoalan sosial, membantu kelompok yang membutuhkan, serta membangun kerja sama dengan berbagai elemen masyarakat. Dalam kehidupan kota yang terus berkembang, kebutuhan masyarakat juga mengalami perubahan sehingga bentuk pelayanan perlu menyesuaikan dengan tantangan yang ada. Kerja sama antara lembaga keagamaan, pemerintah, komunitas, dan masyarakat dapat menjadi salah satu cara untuk menghadirkan manfaat yang lebih luas. Semangat tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk membangun kehidupan sosial yang inklusif dan mengutamakan kepedulian terhadap sesama.
Pesan mengenai pewarisan iman juga memiliki dimensi penting dalam menjaga kesinambungan kehidupan beragama. Iman tidak hanya dipahami sebagai hubungan pribadi seseorang dengan Tuhan, tetapi juga tercermin melalui perilaku dan tindakan terhadap orang lain. Nilai kasih, kepedulian, kejujuran, toleransi, serta kesediaan melayani dapat menjadi pedoman dalam menghadapi berbagai persoalan sosial. Ketika nilai tersebut ditanamkan kepada generasi muda melalui pengalaman langsung, proses pewarisan tidak hanya berlangsung melalui pengajaran, tetapi juga melalui keteladanan. Karena itu, generasi senior dan generasi muda memiliki peran yang saling melengkapi dalam menjaga keberlanjutan kehidupan gereja.
Di tengah perkembangan masyarakat yang semakin kompleks, lembaga keagamaan juga menghadapi tantangan untuk tetap menjadi ruang yang mampu menjawab kebutuhan umat. Perubahan teknologi, perkembangan ekonomi, serta pergeseran pola komunikasi membuat generasi muda memiliki cara berbeda dalam memperoleh informasi dan membangun relasi sosial. Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan pelayanan yang mampu menjembatani nilai-nilai lama dengan kebutuhan generasi saat ini. Gereja dapat tetap mempertahankan tradisi sekaligus memberikan ruang bagi kreativitas dan inovasi anak muda. Dengan demikian, warisan iman tidak hanya dipertahankan dalam bentuk simbol dan tradisi, tetapi juga diterjemahkan menjadi tindakan yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Perjalanan 187 tahun GPIB Immanuel Bogor pada akhirnya menjadi pengingat bahwa keberlangsungan sebuah komunitas sangat bergantung pada kemampuan setiap generasi untuk meneruskan nilai yang telah dibangun sebelumnya. Pesan Bima Arya mengenai pentingnya mewariskan iman dan pelayanan menempatkan generasi muda sebagai salah satu bagian utama dalam menjaga kesinambungan tersebut. Peringatan ulang tahun tidak hanya menjadi perayaan atas usia gereja, tetapi juga menjadi kesempatan untuk memperkuat komitmen terhadap pelayanan dan kehidupan sosial yang harmonis. Dengan menjaga sejarah sekaligus membuka ruang bagi pembaruan, GPIB Immanuel diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif bagi jemaat dan masyarakat Kota Bogor. Semangat pelayanan lintas generasi menjadi modal penting agar perjalanan panjang gereja tetap memiliki makna dan terus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat pada masa mendatang.