Jakarta, 23 Oktober 2026 – Pelatih Persija Jakarta, Shin Tae-yong, memberikan pesan tegas kepada kelompok suporter The Jakmania setelah timnya menerima hukuman dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI. Sanksi tersebut dijatuhkan menyusul kericuhan antarsuporter dalam pertandingan Persija melawan Persita Tangerang pada pekan kelima Super League 2026-2027. Akibat insiden tersebut, klub berjuluk Macan Kemayoran harus membayar denda sebesar Rp90 juta. Selain hukuman finansial, The Jakmania juga dilarang mendampingi Persija dalam pertandingan tandang selama setengah musim. Shin berharap kejadian tersebut menjadi pelajaran penting agar para pendukung semakin dewasa dalam memberikan dukungan kepada tim kesayangannya.
Kericuhan terjadi ketika Persija menghadapi Persita Tangerang di Banten International Stadium, Sabtu (17/10/2026). Pertandingan yang berakhir dengan kekalahan Persija 2-3 tersebut sempat terganggu akibat ketegangan di antara kelompok suporter. Insiden bermula dari persoalan di tribun penonton yang kemudian berkembang menjadi keributan dan melibatkan sejumlah pendukung kedua tim. Situasi tersebut menyebabkan pertandingan mengalami penundaan sekitar 30 menit sebelum babak kedua dapat dimulai. Peristiwa itu akhirnya menjadi perhatian penyelenggara kompetisi karena dinilai mengganggu keamanan dan kelancaran pertandingan.
Komdis PSSI kemudian menjatuhkan sejumlah hukuman setelah melakukan pemeriksaan terhadap insiden tersebut. Persija dikenai denda Rp30 juta terkait kericuhan suporter serta tambahan Rp60 juta akibat penyalaan flare dan petasan. Dengan demikian, total sanksi finansial yang berkaitan dengan kubu Persija mencapai Rp90 juta. The Jakmania juga mendapatkan larangan menghadiri enam pertandingan tandang Persija yang tersisa hingga pertengahan musim kompetisi. Hukuman tersebut menjadi peringatan serius bagi klub dan pendukung agar lebih memperhatikan ketertiban selama pertandingan berlangsung.
Menanggapi keputusan tersebut, Shin Tae-yong meminta The Jakmania melakukan introspeksi dan tidak mencari pembenaran atas tindakan yang menimbulkan kerugian. Pelatih asal Korea Selatan itu menegaskan bahwa kericuhan suporter tidak hanya berdampak terhadap kelompok pendukung, tetapi juga memengaruhi klub serta para pemain. Menurutnya, dukungan yang seharusnya memberikan motivasi justru dapat berubah menjadi beban ketika disertai tindakan yang melanggar aturan. Shin berharap seluruh pendukung memahami konsekuensi dari setiap perilaku yang dilakukan selama berada di stadion. Ia juga menginginkan kejadian serupa tidak kembali terulang dalam pertandingan Persija berikutnya.
Pernyataan tersebut disampaikan Shin Tae-yong setelah Persija meraih kemenangan meyakinkan atas Arema FC pada pekan keenam Super League 2026-2027. Dalam pertandingan yang berlangsung di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Rabu (21/10/2026), Macan Kemayoran berhasil mengalahkan Arema FC dengan skor 5-1. Kemenangan tersebut menjadi hasil positif bagi Persija setelah sebelumnya mengalami kekalahan dari Persita Tangerang. Shin mengapresiasi kerja keras para pemain yang mampu menunjukkan penampilan lebih baik sepanjang pertandingan. Namun, perhatian sang pelatih tidak hanya tertuju pada hasil di lapangan, melainkan juga suasana positif yang tercipta di antara kelompok suporter.
Shin Tae-yong secara khusus memuji sikap The Jakmania dan Aremania yang mampu menjaga hubungan harmonis selama pertandingan Persija melawan Arema FC. Kedua kelompok pendukung terlihat memberikan dukungan kepada tim masing-masing tanpa menimbulkan gangguan keamanan yang berarti. Menurut Shin, suasana seperti itulah yang seharusnya menjadi contoh dalam penyelenggaraan pertandingan sepak bola Indonesia. Ia menekankan pentingnya sikap saling menghormati antara pendukung tuan rumah dan tim tamu, baik di dalam maupun di luar stadion. Pelatih berusia 56 tahun tersebut berharap atmosfer positif dapat terus dipertahankan pada pertandingan berikutnya.
Sebelumnya, Shin Tae-yong juga menanggapi kemungkinan penerapan hukuman pengurangan poin terhadap Persija akibat kericuhan suporter. Ia berpendapat bahwa pelanggaran yang berkaitan dengan ketertiban penonton perlu dibedakan dari persoalan integritas pertandingan seperti manipulasi hasil atau pengaturan skor. Meski demikian, keputusan mengenai bentuk hukuman tetap berada dalam kewenangan lembaga disiplin sesuai regulasi kompetisi. Shin menilai penanganan tindakan kekerasan juga memerlukan keterlibatan aparat berwenang agar persoalan dapat diselesaikan secara tepat. Ia mengingatkan bahwa hukuman pertandingan tanpa penonton dapat menjadi konsekuensi yang merugikan seluruh pihak apabila kericuhan terus berulang.
Sanksi yang diterima Persija menjadi pengingat mengenai pentingnya tanggung jawab bersama dalam menciptakan lingkungan sepak bola yang aman dan nyaman. Klub, penyelenggara pertandingan, aparat keamanan, serta kelompok suporter memiliki peran dalam mencegah tindakan yang dapat mengganggu jalannya kompetisi. Bagi Persija, larangan kehadiran The Jakmania pada pertandingan tandang tentu menjadi tantangan tersendiri karena dukungan langsung dari tribun selama ini menjadi salah satu sumber motivasi pemain. Shin Tae-yong berharap para pendukung dapat mengambil pelajaran dari kejadian tersebut dan menunjukkan kedewasaan dalam mendukung Macan Kemayoran. Dengan terciptanya hubungan yang saling menghormati antarsuporter, pertandingan sepak bola Indonesia diharapkan dapat berlangsung lebih tertib sekaligus menghadirkan atmosfer kompetisi yang positif.