Jakarta, 28 September 2026 –
Denada menerapkan aturan tegas terhadap putrinya, Aisha Aurum, terkait kemungkinan terjun secara profesional ke dunia hiburan. Meski Aisha memiliki sejumlah bakat di bidang seni, Denada belum mengizinkan putrinya menjadikan aktivitas tersebut sebagai pekerjaan. Penyanyi berusia 47 tahun itu ingin Aisha terlebih dahulu menyelesaikan pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi. Setelah meraih gelar sarjana, Aisha baru diberikan kebebasan untuk menentukan bidang profesional yang ingin ditekuninya.
Menurut Denada, menjaga keseimbangan antara pendidikan dan pengembangan bakat menjadi tantangan tersendiri dalam mendampingi Aisha. Ia khawatir aktivitas seni yang menyenangkan justru membuat putrinya kehilangan fokus terhadap kewajiban akademik. Karena itu, sekolah ditempatkan sebagai prioritas utama sebelum kegiatan lainnya. Denada ingin Aisha memiliki fondasi pendidikan yang kuat sebelum mengambil keputusan mengenai masa depannya.
Aturan tersebut bukan berarti Denada melarang Aisha mengembangkan kemampuan seni. Aisha tetap diperbolehkan bernyanyi, menari, maupun menjalani kegiatan lain yang diminatinya selama sebatas hobi. Batas yang diberikan Denada terletak pada aktivitas profesional yang berpotensi menyita waktu dan perhatian sang anak. Ia tidak ingin tuntutan pekerjaan membuat pendidikan Aisha berada di posisi kedua.
Denada bahkan telah membuat batas yang jelas mengenai kapan Aisha dapat mulai serius bekerja di bidang seni. Menurutnya, kesempatan tersebut terbuka setelah putrinya menyelesaikan pendidikan hingga tingkat sarjana. Jika setelah itu Aisha tetap ingin bekerja di dunia hiburan atau bidang lain yang menjadi minatnya, Denada tidak akan menghalangi. Ia memilih memberikan kebebasan tersebut ketika tanggung jawab pendidikan yang ditetapkan sudah diselesaikan.
Saat ini perhatian Denada semakin diarahkan pada pendidikan karena Aisha tengah mempersiapkan ujian kelulusan sekolah dasar di Singapura. Aktivitas di luar belajar mulai dibatasi agar Aisha memiliki lebih banyak waktu untuk mempersiapkan diri. Denada menginginkan putrinya memperoleh hasil terbaik dalam ujian tersebut karena dianggap penting untuk kelanjutan pendidikannya. Kondisi itu membuat kegiatan seni Aisha untuk sementara tidak menjadi prioritas.
Keputusan tersebut juga tidak terlepas dari pengalaman Denada yang telah lama berkecimpung di industri hiburan. Ia memahami aktivitas profesional membutuhkan komitmen waktu dan energi yang besar sehingga berpotensi sulit dijalankan bersamaan dengan pendidikan. Atas pertimbangan itu, Denada memilih membatasi kegiatan profesional putrinya sejak awal. Aisha tetap diberikan ruang mengeksplorasi kemampuan tanpa harus memikul tuntutan karier pada usia sekolah.
Denada menegaskan pendidikan tetap menjadi prioritas Aisha untuk beberapa tahun mendatang. Dunia seni tidak sepenuhnya ditutup karena sang anak masih dapat mengembangkan bakat dan mencari bidang yang paling diminati. Namun, keputusan untuk mengubah minat tersebut menjadi pekerjaan profesional harus menunggu hingga pendidikan sarjana selesai. Setelah melewati tahap tersebut, Denada menyerahkan pilihan karier kepada Aisha sesuai minat dan kemampuan yang ingin dikembangkannya.