Jakarta, 5 September 2026 – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI mencatat laba bersih konsolidasian sebesar Rp31,2 triliun hingga akhir Triwulan II 2026. Perolehan tersebut tumbuh 17,5 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja positif tersebut dicapai di tengah dinamika ekonomi global dan perubahan kondisi industri perbankan nasional. BRI mempertahankan ekspansi bisnis dengan tetap menerapkan prinsip kehati-hatian, pengelolaan risiko, serta peningkatan kualitas aset. Pertumbuhan laba juga berjalan beriringan dengan perbaikan efisiensi operasional dan peningkatan penyaluran kredit. Perseroan menilai capaian tersebut menunjukkan transformasi bisnis mulai memberikan dampak terhadap fundamental perusahaan.
Direktur Utama BRI Hery Gunardi mengatakan kondisi ekonomi Indonesia yang relatif resilien menjadi salah satu faktor pendukung aktivitas perbankan selama semester pertama 2026. Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan II tercatat berada di kisaran 5,30 persen, sementara inflasi mencapai 3,34 persen. Aktivitas usaha mikro, kecil, dan menengah juga menunjukkan perkembangan positif dengan Indeks Bisnis UMKM meningkat dari 102,5 pada akhir 2025 menjadi 104,7 pada Triwulan I 2026. Posisi indeks di atas 100 menggambarkan pelaku UMKM secara umum masih berada dalam fase ekspansi. Kondisi tersebut menjadi penting bagi BRI mengingat UMKM merupakan salah satu fondasi utama bisnis perseroan. BRI karena itu tetap menempatkan ekonomi kerakyatan sebagai bagian penting dalam strategi pertumbuhannya.
Hingga akhir Juni 2026, total aset BRI secara konsolidasian mencapai Rp2.352 triliun atau meningkat 11,7 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut antara lain didukung penyaluran kredit dan pembiayaan yang naik 16,2 persen menjadi Rp1.646 triliun. Ekspansi kredit dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan kualitas calon debitur dan kemampuan pembayaran. BRI tidak hanya mengejar pertumbuhan volume, tetapi juga menjaga agar peningkatan kredit tidak diikuti peningkatan risiko secara berlebihan. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya menghasilkan pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan. Perseroan juga memperluas sumber pertumbuhan dengan mengembangkan berbagai segmen bisnis di luar kekuatan tradisionalnya.
Meski melakukan diversifikasi, UMKM tetap menjadi bagian terbesar dari portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group. Hingga akhir Triwulan II 2026, kredit yang mengalir kepada segmen UMKM mencapai Rp1.235,4 triliun atau tumbuh sekitar 8,6 persen secara tahunan. Nilai tersebut setara dengan sekitar 75,1 persen dari keseluruhan portofolio kredit dan pembiayaan BRI Group. Besarnya porsi tersebut menunjukkan ekspansi ke segmen konsumer, komersial, korporasi, dan sumber pertumbuhan baru tidak mengubah fokus utama BRI terhadap ekonomi kerakyatan. Perseroan ingin pertumbuhan kredit memberikan dampak langsung terhadap aktivitas usaha dan penciptaan lapangan pekerjaan. Penguatan pembiayaan juga disertai program pemberdayaan agar pelaku UMKM memiliki kemampuan berkembang dan naik kelas.
Dari sisi pendanaan, Dana Pihak Ketiga BRI mencapai Rp1.581 triliun atau tumbuh 6,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Perseroan terus berupaya memperbesar komposisi dana murah atau current account saving account karena memiliki pengaruh terhadap efisiensi biaya pendanaan. Strategi dilakukan melalui pengembangan ekosistem transaksi, peningkatan penggunaan BRImo dan QRIS, akuisisi merchant, serta perluasan peran BRILink Agen. BRI juga memperdalam penetrasi pada berbagai klaster bisnis dan mengintegrasikan rantai nilai untuk meningkatkan transaksi nasabah. Strategi pendanaan tersebut mulai tercermin dari penurunan Cost of Fund secara bank only dari 3,0 persen menjadi 2,4 persen. Penurunan biaya dana memberikan ruang lebih besar bagi perseroan untuk menjaga profitabilitas ketika persaingan penghimpunan dana tetap berlangsung.
Pertumbuhan bisnis turut mendorong peningkatan pendapatan bunga bersih BRI sebesar 9,9 persen secara tahunan dari Rp73,3 triliun menjadi Rp80,5 triliun. Pre-Provision Operating Profit juga meningkat 12,8 persen menjadi Rp65,7 triliun. Dari sisi efisiensi, Cost to Income Ratio membaik dari 41,9 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 39,2 persen pada periode yang sama tahun ini. Perbaikan indikator tersebut menunjukkan peningkatan pendapatan berlangsung bersamaan dengan pengendalian biaya operasional. BRI menempatkan efisiensi sebagai salah satu agenda penting dalam transformasi karena pertumbuhan aset dan kredit perlu menghasilkan produktivitas yang lebih baik. Digitalisasi berbagai proses bisnis menjadi salah satu instrumen yang digunakan untuk mendukung agenda tersebut.
Kualitas aset juga menunjukkan perbaikan meskipun penyaluran kredit tumbuh dua digit. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan turun dari 3,0 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 2,9 persen pada Triwulan II 2026. Sementara Cost of Credit membaik dari 3,4 persen menjadi 3,1 persen. BRI menilai perkembangan tersebut menunjukkan ekspansi kredit dapat dijalankan bersamaan dengan penguatan manajemen risiko. Perusahaan melakukan penyempurnaan proses bisnis dan meningkatkan kemampuan tenaga pemasar terutama pada segmen mikro agar kualitas calon debitur dapat dipetakan secara lebih baik. Pengelolaan risiko yang lebih granular juga diterapkan untuk mendeteksi potensi penurunan kualitas kredit lebih dini. Perbaikan kualitas aset menjadi penting untuk mempertahankan pertumbuhan laba dalam jangka panjang.
Penguatan fundamental tersebut ikut mendorong peningkatan kemampuan BRI menghasilkan imbal hasil. Return on Asset tetap terjaga di kisaran 2,7 persen, sedangkan Return on Equity meningkat dari 16,6 persen pada Triwulan II 2025 menjadi 18,8 persen pada Triwulan II 2026. Manajemen menilai perkembangan itu mencerminkan peningkatan produktivitas modal sekaligus kualitas pertumbuhan bisnis. BRI menjalankan transformasi melalui program BRIVolution Reignite dengan dua agenda utama, yakni memperkuat basis pendanaan dan memperbarui bisnis inti sekaligus membangun sumber pertumbuhan baru. Segmen mikro tetap diperkuat melalui penyempurnaan proses bisnis dan manajemen risiko. Sementara sumber pertumbuhan baru dikembangkan melalui ekosistem dan rantai nilai, penyempurnaan produk, akuisisi nasabah berkualitas, serta pengembangan layanan bullion bank.
Peran BRI terhadap UMKM juga dijalankan melalui program pemberdayaan di luar penyaluran kredit. Hingga Juni 2026, Desa BRILiaN telah menjangkau lebih dari 5.700 desa binaan, sedangkan program Klasterku Hidupku menjangkau lebih dari 44 ribu klaster usaha. Platform LinkUMKM tercatat telah digunakan sekitar 17,3 juta pelaku UMKM, sementara pendampingan melalui Rumah BUMN melibatkan sekitar 596 ribu pelaku usaha. Sepanjang Januari hingga Juni 2026, BRI juga menyalurkan Kredit Usaha Rakyat sebesar Rp103,8 triliun kepada lebih dari dua juta debitur. Secara kumulatif sejak 2015 hingga Juni 2026, penyaluran KUR BRI mencapai sekitar Rp1.539 triliun kepada 48,4 juta nasabah. Kombinasi pembiayaan dan pemberdayaan tersebut diarahkan agar akses modal diikuti peningkatan kapasitas usaha.
BRI menargetkan momentum pertumbuhan tersebut dapat dipertahankan dengan tetap menjaga kualitas aset dan disiplin manajemen risiko pada semester berikutnya. Perseroan akan melanjutkan ekspansi secara selektif sekaligus memperkuat dana murah, efisiensi, digitalisasi, dan sumber pertumbuhan baru. UMKM tetap dipertahankan sebagai bisnis inti meskipun struktur pendapatan dan portofolio kredit terus didiversifikasi. Manajemen menilai keberhasilan transformasi tidak hanya diukur melalui peningkatan laba, tetapi juga kemampuan perusahaan menciptakan pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan. Kinerja hingga Triwulan II 2026 memberikan fondasi bagi BRI untuk melanjutkan strategi tersebut di tengah perubahan kondisi ekonomi dan industri perbankan. Dengan laba Rp31,2 triliun serta perbaikan sejumlah indikator fundamental, BRI optimistis dapat menjaga perannya dalam mendukung aktivitas ekonomi kerakyatan dan pertumbuhan nasional.